Mungkin banyak di antara kita yang tidak begitu mengenal sosok Budi Pradono ataupun sama sekali
tidak pernah mendengar nama beliau. Apabila kamu anak arsitektur, kamu wajib tahu siapa beliau
serta hasil karyanya yang bakal menginspirasimu.
Budi Pradono adalah arsitek terkenal asal Indonesia yang lahir di Salatiga, 15 Maret 1970. Beliau
menyelesaikan kuliahnya di jurusan arsitektur Universitas Kristen Duta Wacana di Jogjakarta pada
tahun 1995 dan melanjutkan gelar master di Berlage Institute, Rotterdam, Belanda pada tahun 2002.
Hingga kini, sudah banyak sekali penghargaan internasional yang pernah beliau peroleh, antara lain:
Cityscape architecture award, Dubai tahun 2004; Honorable mention di AR Awards dalam Emerging
Architecture, London, tahun 2005; terpilih menjadi peserta dalam World Architecture Festival di
Barcelona pada tahun 2008; Silver Medal and Honorary Diploma from UIA pada World Triennial of
Architecture Interarch ke 11 di , Sofia Bulgaria tahun 2009.
Pada tahun 2009 Budi Pradono mendapatkan penghargaan lewat sayembara yang bertema Gotong
Royong City atau Reciprocity. Sayembara yang diselenggarakan dalam rangkaian International
Architecture Biennale Rotterdam (IABR) 2009 dimenangkan Budi lewat karya Eco Gate as Border
Device. Masih di tahun yang sama, yang sangat membanggakan, Budi berhasil memenangkan juara
kedua dalam kompetisi Sichuan School International Conceptual Architecture Design di Cina.
Kompetisi ini diikuti oleh lebih dari 400 arsitek muda maupun berpengalaman, juga para desainer
dari 35 negara.
Sudah cukup membuat kamu terkesan?? Kalau belum cukup, ini nih salah satu contoh karya Budi
Pradono yang berlokasi di Bali yang pastinya membuat kamu tercengang.
Bangunan yang di design dengan gaya modern dan tradisional ini berlokasi di Kelating, Bali. Rumah
itu dibayangkan sebagai interpretasi modern dari bangunan tradisional Bali, seperti struktur yang
disebut dengan Taring, yang terbuat dari bambu dan digunakan untuk acara khusus atau upacara.
Konsep lain yang selaras dengan arsitektur Bali adalah penyesuaian dengan lingkungan sekitar.
Bangunan menggunakan bahan organik dan koneksi antara r4uangan internal dengan alam di
sekitarnya.
Menurut Pradono, semua massa bangunan harus dibangung seterbuka mungkin sehingga angin
alami dapat masuk dengan bebas. Atap rumah memiliki struktur bambu yang terbuka, menambah
kehangatan dan detil alami pada ruang tamu lantai atas.
Atap bernada asimetris ditutupi ubin yang terbuat dari bambu yang diratakan. Ini menggabungkan
deretan empat lampu atap di lereng yang menghadap ke barat untuk menyalurkan cahaya ke
interior.
Bentuk gunung dari bangunan ini adalah untuk membawa cahaya ke setiap ruangan. Ruang tamu
terbuka yang memanjang dari bangunan utama ke taman memiliki kerangka bambu dan layar yang
bisa dibuka untuk memberi keteduhan dan privasi jika diperlukan.
Sebuah pavilion terpisah yang menjadi tempat belajar juga dikelilingi dengan struktur bambu,
dengan dinding bata yang memberikan visual yang berbeda dengan rumah. Dinding lainnya dilapisi
dengan kaca untuk memperlihatkan pemandangan kolam renang dan sungai.
Rumah utama memiliki kerangka beton dan baja di lantai dasar, yang berisi ruang tamu yang dapat
sepenuhnya dibuka hingga ke luar ruangan dengan menaikkan tirai gulung. Lantai di bagian bawah
dan lantai atasnya berisi ruang santai, ruang sirkulasi dan kamar tidur yang terbuat dari ubin semen
yang diproduksi oleh pengrajin local. Ubin dekoratif berwarna Jawa dan direklamasi dari bangunan
kolonial tahun 1930-an menjadi motif di permukaan semen.
Perabot dibuat menggunakan bahan daur ulang dari pendudukan Belanda tahun 1940 yang
dilengkapi dengan detil warna biru dan putih, dengan perabotan kayu tradisional Jawa yang
memperkuat konsep timur-barat.